Siapakah Dajjal?
Dajjal adalah pemimpin Yahudi yang
dijanjikan akan muncul di akhir zaman. Dia termasuk salah satu makhluk Allah
yang ditangguhkan usianya hingga waktu tertentu. Selama masa persembunyiaannya,
Dajjal terus menyusun rencana, strategi dan makar agar di hari kemunculannya
Dia benar-benar dipertuhankan oleh manusia. Sangat mustahil jika keluarnya
Dajjal di dunia yang hanya 40 hari –dengan tiba-tiba- dia menjadi
pemimpin yang sangat ditaati, ditakuti dan dipuja banyak manusia. Tidak mungkin
manusia akan tunduk dan takluk seketika –dengan sepenuh hati dan jiwa- pada
sosok manusia yang sama sekali belum diketahui. Terlebih bahwa terminologi
Dajjal selalu identik dengan keburukan, kejahatan, kebusukan dan lambang
kerusakan.
Jika seperti ini hakikat Dajjal yang
sesungguhnya (jahat, kotor, busuk, licik dan durjana), mengapa di akhir zaman
kelak manusia akan bercita-cita untuk bergabung dengan Dajjal ? mengapa kaum
wanita akan berbondong-bondong untuk menjadi pengikut setianya ? mengapa orang
mukmin yang memiliki iman terkuat sekalipun disarankan untuk tidak mendekatinya
? bahkan orang-orang munafik termasuk yang fasik dari penduduk Madinah juga
akan ikut bergabung dengan Dajjal ?
Fenomena di atas jelas-jelas
menggambarkan bahwa Dajjal telah melakukan penetrasi ideologi secara
terus-menerus dan simultan selama berabad-abad. Kaki tangan Dajjal terus
bekerja selama ribuan tahun dengan gaya dan strategi yang memungkinkan manusia
tidak lagi menolak Dajjal sebagai sosok pemimpin akhir zaman. Kaki tangan
Dajjal akan terus menebar jaring-jaring fitnahnya (materialisme – atheisme –
zionisme) sehingga seluruh dunia tidak lagi berkutik melawannya. Tokoh-tokoh
pemimpin dunia terus dimunculkan Dajjal untuk menggiring opini agar dunia
tunduk di bawah keinginnnya. Berbagai kebijakan internasional, sistem
pengendalian dunia, dan tatanan negara dimanapun selalu dibawa untuk mendukung
kebijakan sistem Dajjal ini.
Sai Baba sebagai fenomena di India
mungkin saja tertuduh sebagai Dajjal, atau hanya salah satu dajjal-dajjal
pendusta yang dijanjikan. Meski berbagai ‘kemampuan’ yang dimilikinya mirip
dengan yang dilakukan oleh Dajjal, tetapi bahayanya bagi umat Islam justru
terletak pada ideologi yang dibawanya. Apa yang ditawarkan oleh Sai Baba dari
berbagai ritual dan ajarannya, itulah yang saat ini sedang mengepung umat Islam
di Indonesia. Beragam ideologi sesat yang mengepung umat Islam menjelaskan
adanya indikasi upaya sistematik kaki tangan Dajjal untuk menancapkan kuku
kekuasaannya. Berbagai paham dan ideologi yang menjadi perpanjangan Zionis-Yahudi
terus ditebar. Tujuannya; agar seluruh manusia bersedia untuk menyambut Sang
Dajjal jika hari yang dijanjikan telah tiba.
Seperti apa fitnah dan ideologi yang
diusung oleh Sai Baba ? Benarkah fitnah dan ideologi itu mengakar di tengah
Umat Islam ? Sejauh mana kaki tangan Dajjal melakukan penetrasi ideologinya ?
Adakah tokoh-tokoh yang menjadi perpanjangan darinya ?
Misteri Segitiga Bermuda
Berdasarkan catatan sejarah, berbagai
informasi dan pengakuan dari para pelaku, memang benar secara fakta telah
terjadi beberapa peristiwa tragis di seputar kawasan Segitiga Bermuda, Samudra
Atlantik. Juga banyak pengakuan dari pelaku yang menyatakan melihat benda
terbang aneh berbentuk seperti piring (flying saucer) yang sampai saat
ini populer disebut UFO (unidentified flying object). Penyebutan ini,
secara tidak langsung merupakan pengakuan betapa sedikitnya ilmu manusia.
Memang sampai saat ini obyek terbang tersebut belum bisa diidentifikasi atau
bahkan sampai hari akhir kelak tidak akan benar-benar teridentifikasi, Allahu
a’lam.
Berbagai argument, dugaan, penafsiran
dan tanggapan terhadap peristiwa misterius tersebut masih terus santer
disuarakan baik oleh para ilmuwan, pemuka agama bahkan orang awam ikut
berkomentar. Ada yang mendasarkan argumen bahwa penyebab peristiwa misterius
tersebut adalah murni gejala alam yang tidak ada kaitannya dengan “alam ghoib”.
Ada juga yang mengatakan bahwa semua peristiwa tersebut ada kaitannya dengan
aktivitas makhluk ghoib seperti adanya kerajaan setan, jin penguasa laut,
aliens, misteri naga laut, makhluk laut Sargasso dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana kita sebagai seorang
muslim menyikapinya?
Pertama kita harus mengembalikan segala
urusan hanya kepada Allah, bahwa segala sesuatu yang terjadi atau yang menimpa
seorang hamba hanya atas izin dan kehendak Allah semata (QS At-Taghobun: 11).
Kedua, Allah swt., telah memberikan ijin
kepada salah satu makhluknya, yaitu bangsa jin melakukan aktifitas untuk
menakuti dan menggoda manusia.
Ketiga, peristiwa misterius tersebut
adalah salah satu bentuk keghoiban bagi manusia, entah itu ghoib mutlak maupun ghoib relatif. Ghoib mutlak adalah segala
keghoiban yang telah Allah kabarkan kepada manusia melalui kalamNYA, seperti
Dzat Allah, Malaikat, Jin, Surga, Neraka dsb. Sedangkan ghoib relatif adalah
segala bentuk keghoiban yang sebenarnya ilmiah hanya saja tidak bisa diketahui
manusia karena keterbatasan ilmu dan kemampuannya. Menyikapi peristiwa ghoib
tersebut, kita akui bahwa sedikit sekali ilmu kita tentang itu. Allah berfirman Tidaklah Aku berikan ilmu kepada
kalian kecuali hanya sedikit sekali (Al-Israa:85).
Sekilas tentang Setan, Dajjal dan
Ya’juj-Ma’juj
Mari sejenak kita cari informasi tentang
misteri tersebut pada sumber informasi terpercaya milik kita, Al-Qur’an dan
hadits. Al-Qur’an telah mengabarkan kepada kita tentang banyak keghoiban yang
mesti kita imani secara absurd.
Salah satunya tentang adanya jin, bala tentara, kerajaan, dan tabiatnya. Bangsa
jin mempunyai alam sendiri yang tidak pernah bisa kita lihat, tetapi meraka
bisa melihat kita. Bangsa jin diberi kekuatan yang melebihi kekuatan manusia.
Bangsa jin memiliki kecepatan lari melebihi kecepatan cahaya, sehingga mereka
sering pergi ke langit untuk mencuri-curi informasi dari karajaan langit.
Mereka juga diberi kemampuan berubah-ubah bentuk, mereka mampu memperlihatkan
diri pada manusia dalam sosok yang berbeda-beda tergantung seleranya.
Rasulullah bersabda, Jin itu
terdiri dari tiga golongan, pertama golongan jin yang suka
terbang di udara, kedua golongan jin yang berbentuk
ular dan anjing dan ketiga golongan jin yang selalu
berpindah pindah. (HR Thabrani, Hakim dan Baihaqi)
Bangsa jin adalah makhluk Allah yang
juga mengemban syari’at ketuhanan. Mereka juga layaknya manusia yang mempunyai
kewajiban-kewajiban syari’at yang harus dilaksanakan dan kelak juga meraka akan
dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah mereka lakukan. Bangsa jin
ada yang beriman, ada yang fasik, munafiq juga ada yang kafir. Menurut pendapat
yang masyhur, iblis dan setan adalah salah satu dari bangsa jin yang senantiasa
menggoda manusia. Demikian halnya dajjal juga merupakan manifestasi dari sifat
setan atau iblis yang kelak di akhir zaman akan ditampakkan oleh Allah dalam
bentuk fisik. Dajjal disebutkan berulang-ulang dalam Hadits, sedangkan Ya’juj
wa-Ma’juj bukan saja disebutkan dalam Hadits, melainkan pula dalam Al-Qur’an.
Dan kemunculannya yang kedua kalinya ini dihubungkan dengan turunnya Al-Masih.
Kata Dajjal berasal dari kata dajala, artinya, menutupi (sesuatu).
Kamus Lisanul-’Arab mengemukakan
beberapa pendapat mengapa disebut Dajjal. Menurut suatu pendapat, ia disebut
Dajjal karena ia adalah pembohong yang menutupi kebenaran dengan kepalsuan.
Pendapat lainnya mengatakan, karena ia menutupi bumi dengan bilangannya yang
besar. Pendapat ketiga mengatakan, karena ia menutupi manusia dengan kekafiran.
Keempat, karena ia tersebar dan menutupi seluruh muka bumi. Pendapat lain
mengatakan, bahwa Dajjal itu bangsa yang menyebarkan barang dagangannya ke
seluruh dunia, artinya, menutupi dunia dengan barang dagangannya. Ada juga
pendapat yang mengatakan, bahwa ia dijuluki Dajjal karena mengatakan hal-hal
yang bertentangan dengan hatinya, artinya, ia menutupi maksud yang sebenarnya
dengan kata-kata palsu.Kata Ya’juj dan Ma juj berasal dari kata ajja atau ajij
dalam wazan Yaf’ul; kata ajij artinya nyala api. Tetapi kata ajja berarti pula
asra’a, maknanya berjalan cepat. Itulah makna yang tertera dalam kamus
Lisanul-’Arab. Ya’juj wa-Ma’juj dapat pula diibaratkan sebagai api menyala dan
air bergelombang, karena hebatnya gerakan.
Dalam surat Al-Kahfi, segera setelah
menerangkan pertempuran satu sama lain antara Ya’juj wa-Ma’juj pada ayat 99,
ayat 102 menerangkan persoalan Dajjal. “Apakah orang-orang kafir mengira bahwa
mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku sebagai pelindung di luar Aku?”. Ini
menunjukkan bahwa Al-Qur’an mempersamakan Dajjal dengan Ya’juj wa-Ma’juj.
Mereka diberi nama yang berlainan karena mempunyai dua fungsi yang berlainan.
Adakah kaitan antara Segitiga Bermuda
dengan Kerajaan Setan dan munculnya Dajjal?
Mungkin saja hal itu bisa terjadi karena
telah kita pahami bahwa setan mempunyai kekuatan melebihi kekuatan manusia.
Mereka juga bisa bergerak secepat cahaya. Sangat masuk akal jika mereka
mempunyai kerajaan sebagai tempat persinggahan di manapun mereka kehendaki.
Mungkin saja mereka memilih kawasan segitiga Bermuda sebagai tempat karena kita
tahu bahwa di kawasan tersebut terdapat pertemuan antara dua arus, yaitu arus
panas dari Afrika dan arus dingin dari Amerika Utara akibat intensitas
penyinaran matahari yang berbeda. Dan tempat seperti inilah yang paling disukai
oleh setan. Peristiwa-peristiwa misterius di kawasan tersebut mungkin
disebabkan karena adanya pusaran air yang dahsyat di pertemuan dua arus
tersebut, juga karena kerajaan setan yang mungkin tersembungi di situ. Allahu
A’lamKemungkinan tersebut didukung oleh tulisan seorang ulama mesir bernama
Syaikh Muhamad isa Daud pada buku berjudul “Dajjal akan muncul dari Kerajaan
Jin di Segitiga Bermuda”. Di dalam sinopsin buku tersebut dibahas bahwa kelak
menjelang hari akhir Dajjal akan muncul dari kawasan Segitiga Bermuda.
Jika ada pertanyaan, memang jin bisa membunuh atau merusak? Jawabnya bisa,
sebagaimana kasus yang pernah menimpa Nabi Ayyub a.s, di mana semua ternak dan
kebunnya dimusnahkan oleh jin, tidak hanya itu bahkan semua anaknya mati
olehnya dan nabi ayyub sendiri menderita penyakit kulit akibat ulah jin
tersebut. Tapi perlu dicacat, semua itu hanyalah atas ijin Allah SWT. Jika
Allah tidak menghendaki, niscaya sampai kapanpun jin tidak bisa berbuat
apa-apa. Lalu apa motivasi jin berbuat semua itu? Ada banyak motivasi, boleh
jadi hanya iseng, ingin menghebohkan dunia, ingin menakuti manusia, menguji
manusia, juga ingin menjerumuskan manusia.
Dalam bukunya "Dajjal Muncul dari segitiga Bermuda" Muhammad Isa
daud menuturkan, sebelum sampai di Pulau Bermuda atau tinggal di daerah
Segitiga Bermuda ini, dajjal dahulunya tinggal di sebuah pulau di laut Yaman.
Awalnya, ia lahir dari sebuah keluarga penyembah berhala di zaman setelah Sam
bin Nuh. Ia dilahirkan di daerah sekitar Palestina di dekat daerah Sodom dan
Gomorah (umat kaum Luth) dalam keadaan cacat di matanya.
Sejak kecil, si anak (dajjal) ini suka menyusahkan orang tuanya. Tidur
sekitar empat tahun lamanya dan tidak bisa berjalan. Suatu hari, di tengah
lelapnya tidur, si anak terbangun dan mendatangi berhala sesembahan kedua orang
tuanya dan tidur lagi di pangkuan berhala itu. Saat itulah orang tuanya
mengumumkan kalau anaknya itu merupakan anak Tuhan.
Orangorang yang sebelumnya mendengar bahwa anaknya itu tidak bisa berjalan,
spontan menertawakan dan mencemoohnya. Sebagian lainnya, ada yang mengambil air
berkah. Oleh banyak orang, si orang tua di laporkan ke hakim dan diputuskan
keduanya harus berpisah dengan anaknya. Anaknya ditahan di pengadilan atau
istana sedangkan orang tua di bagian lain penjara.
Namun, saat terjadi azab kepada penduduk Sodom dan Gomorah, anak ini
diselamatkan oleh Malaikat Jibril ke sebuah pulau yang tidak berpenghuni di
laut Yaman. Jarak laut Yaman ini membutuhkan perjalanan yang sangat lama dan
jika ingin ke pulau tersebut harus melewati terjangan ombak dahsyat. Jika tak
hati-hati maka akan tenggelam. Selama di pulau itu, Jibril menugaskan seekor
binatang yang badannya dipenuhi bulu lebat untuk merawat dan membantu si
manusia cacat itu.
Singkat cerita, ketika sudah semakin besar, ia memutuskan keluar dari pulau
itu dan mengembara ke mana saja. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Ibrahim,
Musa, dan Nabi Isa. Dalam pertemuannya dengan Nabi Musa, la awalnya menjadi
pengikutnya. Namun, di balik pertemuan itu ia memiliki maksud jahat. Karena kekagumannya
pada Musa, ia menggunakan nama Musa. Namun, untuk membedakan ia dengan Musa
dari Mesir (Nabi Musa-Red), maka ia memakai nama Musa Samiri alias Musa dari
Samirah, tempat lahirnya sewaktu masih di Palestina.
Karena perbuatannya mengajak Bani Israil membuat patung anak lembu maka
Musa AS lalu mengusir Samiri. (Lihat QS Thaha [20] 97). Ke mana perginya Samiri
(dajjal) ini setelah diusir Musa, tidak ada keterangan lanjutan.
Muhammad Isa Daud menyebutkan, sejak diusir itu, Samiri mengembara lagi ke berbagai
tempat. Ia terus belajar mengenai sikap umat manusia dan mencari celah untuk
menjerumuskannya. Dan beberapa saat sebelum kelahiran
Rasulullah SAW, dajjal kembali ke pulau tempat ia dibesarkan oleh seekor
makhluk berbulu tebal tersebut. Saat mendarat itulah, oleh makhluk tersebut,
dajjal disuruh berjalan ke bagian dalam gua. Saat membelakangi dinding gua
itulah, dajjal kemudian terpasung. Makhluk tersebut menyatakan, ikatan itu
hanya akan bisa lepas, saat waktunya telah tiba. Dalam penuturan Isa Daud,
dajjal terpasung selama lebih kurang 63 tahun. Sama dengan usia Rasulullah SAW.
Setelah bebas, dajjal kembali mengembara. Puncaknya, ia pergi ke Segitiga
Bermuda dan akhirnya bertemu dengan setan. Ia sangat diagungkan oleh setan dan
keduanya membuat perjanjian bersama untuk menghancurkan umat manusia dan
memalingkannya dari menyembah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan keterangan Muhammad Isa Daud hingga hari ini dajjal masih
hidup. Kendati usianya sudah lebih dari 4.000 tahun, tetapi fisiknya masil
tetap muda dan tak ada yang bisa menandingi kekuatannya hingga turunnya Isa
AlMasih, putra Maryam, yang akan membunuhn Usianya itu bila dikonversikan
dengan Nabi Ibrahim AS, sebagaima pendapat Sami bin Abdullah t Maghluts, bahwa
Nabi Ibrahim hidup pada tahun 1997-1822 SM saat ini mencapai 4.000 tahun.
Panjangnya usia dajjal ini, karena ia merupakan satu dari tiga orang yang
muntazhar (ditangguhkan) atau dipanjangkan umurnya, yakni setan, Nabi Isa AS,
dan dajjal. Dan hanya Nabi Isa AS yang mampu mengalahkan dan membunuh dajjal.
Kaitan antara UFO dengan Jin/Setan
Rasulullah menjelaskan bahwa ada golongan jin yang suka terbng di udara.
Mereka bisa terbang dengan kecepatan yang cukup tinggi, melebihi kecepatan
cahaya. Dalam al-Qur’an Surat Al Jinn, disebutkan bahwa jin suka terbang ke
langit untuk mencuri informasi rahasia dari kerajaan langit, tetapi kebanyakan
dari mereka tidak bisa mendapatkan informasi tersebut karena selalu dilempari
panah-panah api. Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui
(rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan
panah-panah api, (QS Jin: 8).
Dengan informasi tersebut kita bisa mengatakan kemungkinan besar misteri
UFO yang selama ini populer adalah aktifitas jin, karena jin memang bisa
berubah-ubah bentuk sesuai keinginan mereka. Apabila kondisi zaman semakin maju
yang didukung oleh kecanggihan teknologi, maka jin/setan pun akan mengikuti
tren kemajuan tersebut, sehingga mereka boleh jadi juga akan merubah bentuk
mereka menjadi objek teknologi tinggi sperti piring terbang tersebut Allahu
a’lam bisshowwab
Fitnah Duhaima’
Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius tentang huru-hara
menjelang kiamat adalah fenomena Fitnah Duhaima’. Duhaima’ yang
bermakna kelam atau gelap gulita merupakan satu fitnah yang mengiringi
kedatangan Dajjal. Maka menjadi suatu hal yang sangat urgen untuk mengetahui
hakikat dan bentuk dari fitnah ini. Sebagian ulama menyatakan bahwa fitnah ini
belum terjadi dan sebagian lainnya mengatakan bahwa ia sudah (sedang) terjadi.
Riwayat yang menyebutkan akan terjadinya fitnah ini adalah sebagaimana yang
dikisahkan dari Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ia berkata : “Suatu ketika kami
duduk-duduk di hadapan Rasulullah saw memperbincangkan soal berbagai fitnah,
beliau pun banyak bercerita mengenainya. Sehingga beliau juga menyebut tentang Fitnah
Ahlas. Maka, seseorang bertanya: ‘Apa yang dimaksud dengan fitnah
Ahlas?’ Beliau menjawab : ‘Yaitu fitnah pelarian dan peperangan.
Kemudian Fitnah Sarra’, kotoran atau asapnya berasal dari
bawah kaki seseorang dari Ahlubaitku, ia mengaku dariku, padahal bukan dariku,
karena sesungguhnya waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa. Kemudian manusia
bersepakat pada seseorang seperti bertemunya pinggul di tulang rusuk, kemudian Fitnah
Duhaima’ yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali
dihantamnya. Jika dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut, di
dalamnya seorang pria pada pagi hari beriman, tetapi pada sore hari menjadi
kafir, sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak
mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan.
Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau
besoknya.
Jika melihat dari teks yang menjelaskan berbagai bentuk fitnah di atas,
nampaknya hakikat dan terjadinya fitnah-fitnah tersebut saling berhubungan satu
sama lain. Peristiwa yang satu akan menjadi penyebab munculnya fitnah
berikutnya. Sebagaimana tersebut dalam nash di atas, beliau mengungkapkan
dengan kalimat “tsumma” yang bermakna kemudian. Ini menunjukkan bahwa
fitnah-fitnah tersebut akan terjadi dalam beberapa waktu, yang ketika hampir
berakhir atau masih terus terjadi hingga puncaknya, maka dilanjutkan dengan
fitnah berikutnya. Kalimat “tsumma” menunjukkan jeda waktu yang tidak pasti,
namun menunjukkan makna “tartib” (kejadian yang berurutan).
Fitnah pertama yang beliau sebutkan adalah Fitnah Ahlas. Tentang
realita fitnah Ahlas ini, sebagian ada yang berpendapat bahwa ia sudah terjadi
semenjak zaman para sahabat, dimana Al-Faruq ‘Umar bin Khaththab adalah
merupakan dinding pembatas antara kaum Muslimin dengan fitnah ini, sebagaimana
yang diterangkan Nabi saw ketika beliau berkata kepada ‘Umar:
“Sesungguhnya antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu yang akan hancur.”[2]
Dan sabda Rasul saw ini memang menjadi kenyataan dimana ketika
‘Umar baru saja meninggal dunia, hancurlah pintu tersebut dan terbukalah fitnah
ini terhadap kaum Muslimin dan ia tidak pernah berhenti sampai sekarang ini.
Sejak wafatnya Umar Ibnul Khaththab, maka kaum muslimin terus ditempeli dengan
fitnah tersebut.
Adapun Fitnatu Sarra’, maka Imam Ali Al-Qaari
menyatakan yang dimaksud dengan fitnah ini adalah nikmat yang menyenangkan
manusia, berupa kesehatan, kekayaan, selamat dari musibah dan bencana. Fitnah
ini disambungkan dengan sarra’ karena terjadinya disebabkan
timbul / adanya berbagai kemaksiatan karena kehidupan yang mewah, atau karena
kekayaan tersebut menyenangkan musuh.
Selanjutnya tentang Fitnah Duhaima. Kata duhaima’ merupakan
bentuk tasghir(pengecilan) dari kata dahma’, yang
berarti hitam kelam dan gelap. Fitnah ini akan meluas mengenai seluruh umat
ini. Meskipun manusia menyatakan fitnah tersebut telah berhenti, ia akan terus
berlangsung dan bahkan mencapai puncaknya. [3]
Ada beberapa ciri khusus dari fitnah ini yang tidak dimiliki oleh fitnah
sebelumnya.
1.
Fitnah ini akan menghantam semua umat Islam (lebih khusus lagi adalah
bangsa Arab). Tidak seorangpun dari warga muslim yang akan terbebas dari fitnah
ini. Beliau menggunakan lafadz “lathama” yang bermakna menghantam, atau memukul
bagian wajah dengan telapak tangan (menempeleng/menampar). Kalimat ini
merupakan gambaran sebuah fitnah yang sangat keras dan ganas.
2.
Fitnah ini akan terus memanjang, dan tidak diketahui oleh manusia kapan ia
akan berakhir. Bahkan ketika manusia ada yang berkata bahwa fitnah itu sudah
berhenti, yang terjadi justru sebaliknya; ia akan terus memanjang dan sulit
diprediksi kapan berhentinya. Inilah maksud ucapan beliau : Jika
dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut.
3.
Efek yang ditimbulkan oleh fitnah ini adalah yaitu munculnya sekelompok
manusia yang di waktu pagi masih memiliki iman, namun di sore hari telah
menjadi kafir. Ini merupakan sebuah gambaran tentang kedahsyatan fitnah
tersebut. Fitnah ini akan mencabut keimanan seseorang hanya dalam bilangan satu
hari, dan ini juga merupakan sebuah gambaran betapa cepatnya kondisi seseorang
itu berubah.
4.
Beliau menjelaskan bahwa proses terjadinya kemurtadan pada sebagian umat
Islam yang begitu cepat itu akan terus berlangsung dalam waktu yang tidak
diketahui. Manusia terus berguguran satu persatu dalam kekufuran, dan puncak
dari kejadian ini adalah terbelahnya manusia dalam dua kelompok (fusthathain);
kelompok iman yang tidak tercampur dengan kenifakan dan kelompok munafik yang
tidak memiliki keimanan.
Benarkah Fitnah Duhaima’ ini sudah terjadi?
Sebagian pemerhati hadits-hadits fitnah berpendapat bahwa fitnah duhaima’
itu sudah terjadi dan terus berlangsung. Di antara realita dari fitnah tersebut
adalah:
1.
Fitnah demokrasi yang dipaksakan oleh barat kepada
dunia. Sebenarnya demokrasi sudah dimulai dari Revolusi Prancis pada sekitar
abad 18. Saat itu ideologi demokrasi dengan pemilu sebagai produk turunannya
belum ‘laku’ dan tidak banyak dilirik banyak manusia. Barulah di abad 20
ideologi itu mulai diterima, bahkan di awal abad 21, negara barat ‘memaksakan’
agar seluruh dunia menggunakan sistem tersebut sebagai ideologi yang harus
dipakai oleh setiap negara. Ideologi yang menjadikan keputusan berada di tangan
rakyat -tanpa memperhatikan apakah sesuai dengan hukum Islam atau justru
bertolakbelakang- jelas merupakan sebuah ideologi kufur yang ditentang oleh
para ulama. Tidak sedikit ulama yang telah mengupas akan kekafiran sistem ini,
dimana Allah tidak boleh ‘terlibat’ dalam sebuah keputusan undang-undang. Dan
sebagaimana realita yang ada, ideologi ini mulai menjangkiti beberapa negara
dengan mayoritas muslim yang sebelumnya menolak untuk dijadikan sebagai
landasan bernegara. Amerika sangat doyan mencekoki negara-negara lain dengan
konsep demokrasi. Pada 2011 Mereka malah berada di belakang pihak oposisi yang
melakukan revolusi di beberapa negara Timur Tengah. Mulai dari Tunisia,
yordania, Mesir, Libya dan lain-lainnya.
2.
Pendapat lain tentang makna fitnah Duhaima’ adalah fitnah perang terhadap
terorisme yang sebenarnya bermakna perang terhadap Islam dan umat Islam,
terkhusus umat Islam yang memiliki jalan jihad sebagai cara untuk menegakkan
agama (iqamatuddin).
Dalam hal ini, jika fitnah Duhaima’ dimaknai dengan fitnah demokrasi, maka
fenomena terjerumusnya umat pada kekufuran juga sangat nyata. Sebagaimana yang
telah dijelaskan sebelumnya bahwa demokrasi merupakan ideologi kufur yang tidak
menghendaki campur tangan Allah dalam urusan manusia dengan dunianya.
Keengganan sekelompok masyarakat untuk menjadikan hukum Allah sebagai aturan
hidup dan menjadikan pendapat mayoritas sebagai acuan dalam mengambil setiap
aturan hidup merupakan bentuk kesyirikan nyata. Dengan demikian, besar
kemungkinan semua pihak yang turut mengambil bagian dalam tegaknya sistem
demokrasi ala barat ini akan terjerumus dalam lubang kekafiran. Dan realita
seperti inilah yang kebanyakan tidak disadari oleh banyak manusia. Wal iyadz
billah.
Wallahu A’lam bish shawab, untuk sementara pendapat tentang fitnah Duhaima’
yang bermakna ideologi demokrasi sekuler liberal dan perang melawan umat Islam
atas nama pemberantasan terorisme barangkali merupakan pendapat yang lebih
dekat kepada kebenaran dari pada fitnah televise dan hiburan. Dan sesungguhnya,
pemaksaan ideologi demokrasi sekuler liberal sebenarnya juga memiliki hubungan
yang sangat erat dengan fitnah terorisme ini. Karena pemaksaan demokrasi sekuler
liberal dengan sendirinya merupakan perang terhadap konsep khilafah dan
kewajiban kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah yang hari ini menjadi cita-cita
kelompok yang tertuduh sebagai teroris itu. Wallahu A’lam bish shawab.
Keluarnya dajjal di ujung Fitnah Duhaima’?
Berdasarkan riwayat di atas, Dajjal akan keluar untuk yang terakhirnya
kalinya di penghujung fitnah Duhaima’ ini. Lalu, jika benar fitnah demokrasi
dan perang melawan terorisme merupakan fitnah Duhaima’, dimana korelasinya
dengan kemunculan Dajjal dan bagaimana kita dapat mengetahuinya?
Jika melihat dari periodesasi umat Islam yang dimulai dari fase nubuwah,
kemudian fase khilafah nabawiyah (khulafaaur rasyidin), kemudian fase mulkan adhud (yang
dimulai dari bani Umayyah hingga Turki Utsmani), lalu dilanjutkan dengan mulkan
Jabbar (kekuasaan diktator) yang berakhir dengan munculnya ideologi demokrasi,
maka fase kemenangan ideologi demokrasi merupakan tanda dekatnya janji
Rasulullah saw. akan kemunculan fase khilafah rasyidah nabawiyah ‘alamiyah
(dalam skala internasional). Sebab, Rasulullah saw. menyebutkan akan kemunculan
khilafah rasyidah ini setelah tumbangnya mulkan jabbar. Dengan kata lain,
kehadiran ideologi demokrasi yang menumbangkan mulkan jabbar justru menjadi
tanda semakin dekatnya kebangkitan Islam yang ditandai dengan khilafah rasyidah
dengan Imam Mahdi sebagai pemimpin tertinggi kaum muslimin
Kemunculan Imam Mahdi dengan ideologi garis keras dan fundamental yang
menginginkan syari’at Islam sebagai satu-satunya aturan hidup manusia, sudah
pasti akan meruntuhkan ideologi demokrasi dengan semua turunannya (liberalisme,
kapitalisme, sekulerisme dll), dimana hari ini justru paham-paham jahat itu
banyak dianut oleh mayoritas negara berpenduduk muslim. Dan untuk hal itu
Rasulullah saw. telah memberikan janji akan kembalinya Islam ke setiap rumah
yang dilewati oleh siang dan malam. Jika korelasi ini telah menjadi realita,
maka jelaslah hubungan kemunculan dajjal dan fitnah duhaima’ ini. Saat ini,
setiap kita (dari kelompok manapun) terus berupaya untuk menjadi muslim yang
terbaik dan terdekat dengan sunnah Rasulullah saw. tanpa punya ‘hak veto’ untuk
memvonis kelompok lain di luar dirinya pasti sesat. Namun, kemunculan Al-Mahdi
dengan manhajnya yang paling lurus akan dengan mudah kita menjatuhkan vonis;
siapa yang bergabung dan mendukung Al-Mahdi, dialah mukmin sejati dan siapapun
yang menolak –dengan alasan apapun- maka dia adalah munafik sejati.
(disarikan dari pelbagai sumber) ^^